CUCI OTAK

Selasa, 01 November 2011

JIHAD Vs. KEKERASAN

Posted by Rastaman Aswajais Palengaan 16.38, under | No comments

Jihad! Kalo denger kata yang satu ini, pasti yang terlintas di benak sebagian orang adalah bom, kekerasan, gak berprikemanusiaan ato yang ekstrem-ekstrem ‘en serem-serem lainya. Kok serem, emangnya hantu apa?
Karen Armstrong dalam bukunya ngejelasin, kalo jihad itu merupakan nila-nilai spritual yang baik yang bagi kebanyakan umat Islam gak ada kaitannya ama kekerasan. Dia menilai kalo sejumlah orang udah ngelakuin kesalahan dan lebih suka nyebut teroris dengan istilah 'para pelaku jihad'. Dia nekanin lagi kalo teroris sama sekali gak ngewakilin Islam yang sebenarnya.
Biar lebih jelas lagi, terusin bacanya ya!

Definisi Jihad

Dalam Al-Quran kata jihad terulang sebanyak empat puluh kali dengan bentuk yang beragam. Tapi kaya yang udah dipaparin ama Armstrong, kalo kata jihad gak ada hubungannya ama kekerasan dan emang ada sebagian orang yang ngubung-ngubungin jihad ama teroris. Yang begitu itu ngelecehin Islam banget ya?
Sebenernya apa sih jihad itu? Dan apa jihad itu selalu identik ama kekerasan? Oke, sekarang kita siap-siap ngelakuin pembedahan (kaya mau operasi aja...) untuk nyari apa itu jihad yang sebenernya.
Sebenernya cukup kita liat asal katanya aja, kita gak bakalan ngerasa takut ngeri ato yang lainnya kalo denger kata jihad. Kata jihad berasal dari bahasa Arab jaahada – yujaahidu – mujaahadatan - jihaadan yang artinya berusaha sekuat tenaga, bersungguh-sungguh dalam ngelakuin sesuatu.
Dalam kamus bahasa Arab Al-Munjid, jihad berarti bersungguh-sungguh menjaga agama Allah. Tapi inget! Yang dimaksud menjaga di sini adalah ngejaga nama baik Islam yang sebagai bentuk kasih sayang-Nya ke seluruh alam dan ngejalanin semua kewajiban kita dengan bersungguh-sungguh demi kemajuan Islam.
Karen Armstrong, ngritik stereotipe kata jihad yang berasal dari bahasa Arab, semata-mata diartiin dengan perang suci doang. Para ekstrimis dan polistikus yang gak bermoral udah nyuri kata itu buat tujuan-tujuan mereka sendiri, makna sebenarnya dari jihad bukan hanya 'perang suci' tapi 'perjuangan' atau 'ikhtiar'. Umat Islam diperintahin untuk berjuang sekuat tenaga di berbagai aspek-sosial, ekonomi, intelektualitas, etika dan spiritual-untuk melaksanakan perintah Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
Ada lagi nih, coy. Menurut pengarang Tafsir Al-Mishbah, Quraish Shihab dalam salah satu bukunya ngejelasin kalo jihad itu adalah suatu aktifitas yang unik, menyeluruh dan gak bisa disamain ama aktifitas yang lain –sekalipun itu aktifitas keagamaan.
Kalo gitu, mana seremnya jihad? Gak ada, khan? Lah wong yang bikin kata jihad itu serem adalah mereka-mereka yang emang pengen dan punya kepentingan buat ngejelek-jelekin Islam. Mereka gak mau ngeliat orang-orang Islam seneng, makanya mereka ngubung-ngubungin kata jihad ama teroris.

Jihad Yuk...!

Akhir-akhir ini, banyak orang yang ngerasa takut, ngeri, nganggep sesuatu yang ekstrem kalo denger kata jihad. Perasaan itu mungkin disebabin ama salahnya pemahaman ama sebagian orang yang ngasih pengertian jihad dengan make arti perjuangan fisik doang, perang suci dan lainnya yang berbau kekerasan, plus rentetan tragedi-tragedi yang ama beberapa orang dihubung-hubungin dengan Islam ato jihad, kaya tragedi-tragedi pengeboman di Plaza Atrium, Pulau Dewata, Bali, Kedubes Australia, Mega Kuningan, JW Mariot jilid I ato yang tragedi edisi terbaru (kok edisi sih, emangnya buku apa?) di JW Mariot ama Ritz Carlton yang terjadi tanggal 17 Juli kemaren. Ato yang masih hangat diperbincangkan: Bom di Masjid Adz-Dzikra dan di Solo kemaren.
Emang sih salah satu bentuk jihad itu adalah perjuangan fisik, tapi inget! Masih banyak kok jihad lainnya yang gak hanya jihad fisik doang.
Biar kalian tau ya, sebenernya jihad itu dibagai dua: pertama, jihadud din (jihad memperjuangkan agama) dan jihadun nafsi (jihad melawan hawa nafsu). Sedangkan yang dimaksud jihadud din adalah ngebela abis-abisan agama Allah ini bila ada yang nyoba ngeganggu Islam dengan make kekerasan ato mau merangin Islam. Nah, jihad ini yang ngewajibin kita ngangkat senjata buat ngelawan orang yang ngegangguin itu tadi. “Jika mereka memerangi kamu, maka perangilah mereka.” (Q.S Al-Baqarah: 191). Dengan kata lain, Islam ngajarin kita untuk bersikap difensif dari pada bersifat opensif dalam urusan perang. Kenapa begitu? Karena dalam peperangan, gak cuma pihak yang terlibat dalam peperangan doang yang bakalan jadi korban, tapi masyarakat kecil juga bakalan kena implikasinya. Jadi Islam gak pernah ngajarin tuh yang namanya kekerasan.
Menurut pengamatan beberapa pengamat terorisme di Indonesia, kaya Sydney Jones, bilang kalo salah satu tujuan dari orang-orang yang ngelakuin pengeboman itu tujuannya adalah buat ngebunuh orang-orang non-Islam (kafir). Yang namanya Islam, gak pernah ngajarin begitu, karena kalo mo ngomongin masalah toleransi, selama berabad-abad Islam punya catetan yang lebih baik dibandingin dengan agama lainnya kalo dalam urusan toleransi dan Al-Quran juga gak pernah maksain orang lain buat meluk agama Islam: “Tidak ada paksaan untuk menganut agama (Islam) (Q.S. Al-Baqarah: 256). Bahkan, kita ama Rasulullah dilarang ngebunuh orang kafir yang hidup damai dengan umat Islam (kafir dzimmy), “Barang siapa yang memerangi (membunuh) orang yang berjanji (untuk hidup damai dengan orang islam [kafir dzimy]), maka dia tidak akan mencium bau surga yang baunya itu tercium dari jarak empat puluh tahun perjalanan.” (H.R Bukhari). Ada lagi haditsnya: “Barang siapa menyakiti kafir dzimmy, maka dia sungguh-sungguh menyakitiku.”
Sebelum para pasukan Islam hendak berangkat menuju perang Mu’tah, Rasulullah berpesan kepada para pasukan Islam untuk tidak membunuh anak kecil, para wanita, orang-orang yang udah tua, gak ngerusak fasilitas umum, gak ngerusak tanaman juga gak dibolehin nyerang orang-orang yang ada dalam tempat ibadahnya. Itu pesan Rasul ama pasukan yang hendak berangkat perang. Jadi rangkaian tragedi pengeboman di negara kita ini gak ada hubungannya ama yang namanya jihad. Dalam tragedi-tragedi itu yang jadi sasaran bukan cuma para wanita, tapi anak kecil, orang-orang tua, ngerusak fasilitas umum, ngerusak tumbuhan ato kalo kaya di Poso juga ada masjid dan gereja yang jadi sasaran pengeboman. Sedangkan Rasul ngelarang ngelakuin tindakan-tindakan pengrusakan itu sekalipun dalam jihad dengan fisik.
Kalo tadi kita udah ngebahas soal jihadud din, sekarang kita bakalan ngebahas soal jihad paling dahsyat yaitu jihadun nafsi.
Sepulang dari perang Badar yang merupakan perang terbesar dalam sepanjang sejarah perjuangan Rasulullah, seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, apakah ada perang yang lebih dahsyat lagi dari perang Badar ini?” Rasulullah jawab, “Kita baru saja pulang dari perang kecil menuju perang yang lebih dahsyat lagi.” Mendengar jawaban Rasul tadi, para sahabat kaget, heran dan ngerasa gak percaya, “Perang apakah itu, wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Perang melawan hawa nafsu.”
Dalam sebuah hadits Rasulullah pernah bersabda, “ Berjihadlah menghadapi hawa nafsumu sebagaimana engkau berjihad menghadapi musuhmu.” (Al-Hadits).
Dalam Al-Quran Allah berfirman, “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridlaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S Al-’Ankabut: 69).
Yang dimaksud dengan jihad dalam ayat itu adalah berusaha keras ngelawan hawa nafsunya untuk nyari dan menggapai ridla-Nya. Dan barang siapa yang bersunggu-sungguh nyari ridla Allah, maka Allah bakalan nunjukin jalan untuk mencapai keridlaan-Nya itu. Dan yang dimaksud dengan orang-orang yang berbuat baik yang terdapat pada ayat itu, dalam Tafsir Al-Jalalaini diinterpretasiin dengan orang-orang yang suka tolong-menolong.
Ayat ini dalam Riyadlus Shalihin dijadiin salah satu dasar dalam bab mujahadah (bersungguh-sungguh dalam ngejalanin perintah Allah).
Sebenernya, semua umat Islam itu berkewajiban untuk berjihad lho...
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan ama Al-Bazzar dan Thabrani, dikisahin suatu ketika ada seorang wanita yang ngakunya utusan dari para wanita dateng ngadep ke Rasulullah. Wanita itu nanyain tentang jihadnya para wanita (istri). Rasul menjawab, “Sampaikan informasi kepada kaum wanita yang anda jumpai, bahwa ketaatan istri terhadap suaminya dan memenuhi hak-hak suami adalah mengimbangi perang jihad dan menduduki kedudukan perang fi sabilillahi. Namun kaum wanita yang seperti anda sedikit sekali yang melakukannya.”
Kisah di atas ngejelasin, kalo jihad itu punya arti yang luas banget. Dan dari kisah itu juga, kita dapet ngambil kesimpulan kalo jihad itu adalah bersungguh-sungguh dalam ngejalanin aktifitas kita sehari-hari, misalnya: yang jadi ibu rumah tangga, berjihad (sungguh-sungguh) dalam ngejalanin kewajibannya sebagai ibu rumah tangga; yang jadi guru, berjihad dalam ngedidik murid-muridnya; yang jadi siswa ato siswi, berkewajiban untuk berjihad dalam nuntut ilmu; yang jadi petani, berjihad dalam dunia taninya; apalagi yang jadi wakil rakyat, wajib hukumnya ngejalanin tugasnya dengan baik dalam ngemban aspirasi rakyat. Begono, bro, yang dimaksud dengan jihad.

Rabu, 10 Agustus 2011

MAKAN SEHAT ALA ISLAM

Posted by Rastaman Aswajais Palengaan 08.58, under | No comments

“Perut adalah pusat penyakit.”
Kalimat ini adalah hikmah ulama salaf. Dan memang, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh para ahli di dunia medis mengatakan bahwasanya sebagian penyakit yang dialami manusia ditimbulkan karena makanan yang dikonsumsi dan pola makan yang kurang teratur.
Untuk menjalankan aktifitas sehari-hari, kita membutuhkan tenaga yang bisa diperoleh dari makanan-makanan yang banyak mengandung karbohidrat. Tapi berlebihan dalam mengkonsumsi makanan juga kurang baik bagi tubuh kita. Maka dari itu, Rasulullah mengajarkan kita untuk berhenti makan sebelum kita merasa kenyang. Memang kalau dilihat sepintas anjuran Rasulullah itu seperti tidak masuk akal. Bagaimana kita bisa mendapatkan karbohidrat yang cukup bila waktu makan kita berhenti sebelum kenyang.
Rasulullah adalah seorang utusan yang semua sabdanya merupakan wahyu dari Allah swt.: “Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)." (Q.S. An-Najm:3-4). Dan anjuran Rasulullah itu, mengenai cara makan yang benar, ternyata sangat sesuai dengan anjuran dunia medis modern.
Dunia medis membuktikan, kita akan merasa kenyang dengan makanan yang kita konsumsi kurang lebih dalam waktu tiga atau lima menit setelah aktifitas makan kita selesai. Apabila perut kita merasa kenyang saat aktifitas makan berlangsung, itu berarti kita sudah berlebihan dalam mengkonsumsi makanan, karena rasa kenyang akan kita rasakan setelah tiga atau lima menit berikutnya. Dan kita akan merasakan reaksi “penolakan” yang dilakukan oleh organ perut kalau kita menunggu kenyang untuk berhenti makan. Dengan kata lain, menunggu perut kita merasa kenyang untuk berhenti makan, itu sama saja dengan memberikan porsi berlebih pada perut kita, karena rasa kenyang akan kita rasakan setelah tiga atau lima menit setelah kita selesai makan.
Tapi sayangnya kita sebagai umat Muhammad saw., tidak begitu memperhatikan anjuran makan yang diajarkan oleh Rasulullah ini. Jika ada yang mengikuti anjuran ini, mungkin hanya sebatas hitungan jari kita. Dan yang paling berpegang teguh dengan anjuran ini adalah mereka yang bergelut di dunia tasawuf.
Ada satu lagi anjuran makan sehat dalam Islam yang mengajarkan kita untuk tidak makan kecuali bila perut kita merasa lapar. Dan itu sangat bertentangan dengan pola makan kita yang mengatur waktu makan sedemikian rupa menjadi tiga kali dalam 24 jam.
Dan pola makan yang diajarkan oleh Islam ini ternyata jauh lebih bagus dari pada kita mengatur waktu makan.
Mengatur waktu makan, kadang-kadang memaksa kita untuk melakukan aktifitas makan -jika waktu makan yang ditentukan sudah sampai- meskipun perut masih dalam kondisi kenyang.
Sedangkan waktu makan yang benar adalah sebagaimana anjuran ulama tasawuf yaitu saat kita merasa lapar saja. Dan ternyata, anjuran makan ulama tasawuf ini sesuai dengan anjuran medis. Dan pola makan seperti ini sangat cocok untuk orang yang sedang melakukan program diet.
Itulah Islam yang sangat memperhatikan sampai ke detile-detile kehidupan pemeluknya. Semoga kita semua tetap dalam keindahan agama ini sampai maut menyapa kita. Amin.

TARI PECUT: KESENIAN TRADISIONAL YANG KURANG MENDAPATKAN PERHATIAN PEMERINTAH DAN HAMPIR HILANG DITELAN JAMAN

Posted by Rastaman Aswajais Palengaan 08.50, under | No comments

Tari pecut adalah tarian tradisional yang berasal dari sebuah desa gemah ripah loh jinawi. Desa ini terletak kira-kira 1,5 km dari kecamatan Palengaan. Desa Palengaan Daja. Itulah nama desa ini. Daja yang dalam bahasa Indonesia berarti utara. Diberi nama Daja, karena desa ini berada di sebelah utara kecamatannya yang juga bernama Palengaan. Jadi, desa Palengaan Daja berarti Palengaan Utara, dalam bahasa Indonesia. Dari desa inilah tari pecut “lahir”, tepatnya di dusun Taretah I.
Tarian ini diberi nama tari pecut, karena penarinya dalam menarikan tarian ini menggunakan pecut. Tarian ini ditarikan oleh para lelaki. Tarian yang tidak diiringi alunan musik ini, kalau dilihat dari gerakannya, merupakan gerakan seni bela diri pencak silat yang kemudian “dimodifikasi” menjadi sebuah gerakan tari.
Tarian yang satu ini lahir sekitar tahun 1966 atas prakarsa alm. K. Thahir dan alm. H. Rasyid/Moh. Lawi yang didukung oleh alm. K. Syuja’i, Moh. Sukar, alm K.H. Syafra’i dan alm. H. Ali.

Pada tahun 1971, H. Rasyid, Moh. Sukar dan K. Syuja’i ditahan selama satu minggu oleh Polres Pamekasan, karena dianggap tarian yang beliau pelopori membahayakan. Dianggap membahayakan, karena tersebar isu, bahwasanya pecut yang digunakan oleh para penari tari pecut apabila dipukulkan pada mobil tank bisa hancur. Jadi dengan alasan itulah kemudian tiga pelopor tari pecut ditahan, dengan status tahanan politik. Tapi atas usaha keras alm. K.H. Asy’ari yang pada waktu itu beliau sebagai pengasuh pondok pesantren Miftahul Ulum Kebun Baru sekaligus menjabat sebagai pengurus MWC NU Palengaan, ketiga tahanan politik itu berhasil dikeluarkan dari balik jeruji besi Polres Pamekasan.

Tari pecut pertama kali tampil pada perayaan harlah NU ke 40 di desa Kacok Palengaan. Dan sekarang tarian ini sudah jarang tampil. Meskipun tampil, mungkin, hanya setahun sekali, pada acara harlah NU atau acara-acara ke-NU-an lainnya. Mungkin karena kurangnya perhatian pemerintah -bahkan bisa dikatakan tidak memberikan perhatian sama sekali- pada tarian yang satu ini, maka tarian ini sudah hampir punah.
Tari pecut yang seharusnya dilestarikan, kini sudah mulai dikikis oleh tarian-tarian modern. Kurangnya perhatian pemerintah dan sikap apatis para pemuda di tempat lahirnya tarian tersebut dengan nasib tarian yang merupakan hasil karya seni pendahulu mereka. Mungkin bila mereka disuruh untuk memilih antara tari pecut dan tarian modern, maka mereka akan memilih tarian-tarian yang, menerut mereka lebih modern dan nge-trand yang datangnya dari negara-negara Barat atau yang biasa mereka sebut dengan istilah dance.
Bukan berarti belajar nge-dance tidak boleh, tapi alangkah baiknya mendahulukan tarian-tarian yang lahir dari pendahulu-pendahulu kita. Belajar nge-dance boleh, tapi jangan sampai melupakan tarian kita sendiri. Sebagaimana yang dipaparkan oleh Syaikh Zarnuji dalam karangannya yang terkenal, Ta’lim al-Muta’llim:
“melestarikan peninggalan para pendahulu yang baik, dan mengambil yang modern yang selaras.”
Kita tidak boleh membuang begitu saja hasil-hasil karya dan jerih payah pendahulu kita. Begitu juga dengan hal-hal baru. Kita tidak bisa mengikutinya begitu saja. Selain itu, ada seorang ahli thariqat mengatakan, “generasi yang baik adalah generasi yang menghargai dan melestarikan peninggalan-peninggalan pendahulunya.”
Tari pecut bukan sekedar tarian saja, tetapi ada pesan filosofis yang terdapat dalam gerakan tarian ini. Yaitu, kita harus tegar dan tidak mudah mengeluh dalam menghadapi berbagai cobaan hidup. Filosofi ini terkandung dalam gerakan atraksi memukul badan teman yang juga sedang menari, tapi teman yang dipukul bisa bertahan dan tidak merasakan sakit sama sekali.
Itulah cerita singkat tarian tradisional, yang hampir hilang ditelan jaman, yang mempunyai banyak keunggulan ,dan sarat dengan kandungan filosofis, dibandingkan dengan tarian-tarian modern yang sekarang sedang marak dipelajari anak-anak muda.

BINTANG ADALAH KOMPAS

Posted by Rastaman Aswajais Palengaan 06.17, under | No comments

Di antara salah satu syarat sahnya shalat adalah menghadap kibalat. Tapi bagaimana kita dapat mengetahui arah kiblat, jika kita berada di tengah laut atau di darat yang diselimuti kegelapan, sedangkan kita tidak membawa kompas?
Allah adalah Dzat yang tidak akan membiarkan hambaNya dalam kekeliruan dan kesesatan. Hal itu terbukti dengan ciptaan-Nya yang sangat indah dikala malam menyapa alam. CiptaanNya itu adalah bintang-bintang yang menghiasi malam, sebagaimana firmanNya:
Artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah ciptakan di langit gugusan-gugusan bintang dan Kami menjadikannya hiasan bagi orang-orang yang melihat (sambil berfikir).” (Al-Hijr: 16).
Selain sebagai hiasan, ternyata masih ada lagi manfaat yang terkandung dalam penciptaan bintang-bintang itu.
Lantas, apa hubungan antara bintang-bintang dengan arah kiblat? Allah adalah Dzat Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui. Allah juga menciptakan segala sesuatu, baik yang di langit maupun di bumi, pasti ada manfaatnya. Tidak ada satupun ciptaanNya yang tidak mempunyai manfaat & tanpa hikmah, sebagaimana firmanNya:
“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antar keduanya tanpa hikmah.” (Shaad: 27).
Selain sebagai hiasan, sebagaimana dalam surat Al-Hijr ayat 16 di atas, Allah juga menjadikan bintang-bintang yang tujuannya antara lain; supaya kita bisa membedakan arah mata angina. Hal ini dapat kita lihat dalam al-Quran, yang bebunyi,
Artinya: “Dan Dia-lah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan laut. Sesungguhnya Kami telah jelaskan tanda kebesaran (Kami).” (Al-An’am: 97).
Selain ayat 97 surat Al-An’am di atas, ada juga ayat lain yang mengkonsolidasi ayat tersebut yang berbunyi:
artinya: “...dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapatkan petunjuk.” (An.Nahl: 16).
Imam Nawawi Al-Jawi Al-Bantani dalam karangan beliau yang berjudul At-Tafsir Al-Munir, menginterpretasikan ayat 97 surat Al-An’am tersebut, tidak jauh beda dengan ayat ke 16 surat An-Nahl. Bahkan, bisa juga dikatakan sama.
Dalam karangannya itu, Imam Nawawi Al-Jawi Al-Bantani memaparkan, bahwa Allah menciptakan bintang-bintang di langit hikmahnya supaya umat manusia bisa membedakan arah kiblat saat mereka berada dalam kegelapan, baik di laut maupun di darat, saat mereka melakukan perjalanan.
Ada tiga rasi bintang yang biasa dijadikan pedoman untuk mengetahui arah mata angin. Rasi-rasi tersebut adalah;

Rasi bintang SALIP / PARI / LAYANG-LAYANG
Untuk menentukan arah SELATAN, caranya, hubungkan bintang pada puncak dan kaki rasi. Terlihat pada maret sampai agustus.

Rasi bintang BIDUK / PEDATI / BERUANG BESAR
Untuk menentukan arah utara, perhatikan dua bintang yang terdapat di depan rasi. Jika kita tarik garis KHAYAL, maka kita dapat mengetahui arah UTARA. Terlihat pada bulan maret hingga bulan juli


Rasi bintang ORION / RAJA
Rasi orion sering digambarkan sebagai seorang pemburu dan dapat dikenali dari deretan 3 (tiga) buah bintang yang digambarkan sebagai ikat pinggang dan satu deretan dengan 3 (tiga) buah bintang lagi yang menjurus ke bawah seperti sebilah pedang. Arahnya yang ditunjukan SELATAN. Terlihat pada bulan desember sampai maret.
Itulah Al-Quran yang telah diturunkan oleh Allah kepada Nabi Akhir Zaman, Muhammad saw. melalui Malaikat Jibril sebagai petunjuk dan juga untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagaimana firamanNya,
“Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (An-Nahl:89).

Minggu, 31 Juli 2011

YASMIN BUKAN SITI NUR BAYA

Posted by Rastaman Aswajais Palengaan 22.14, under | 2 comments

Malam itu adalah malam yang paling menyedihkan bagi Yasmin. Betapa tidak, besok dia harus berpisah dengan teman-teman belajarnya di Pesantren yang sangat ia cintai. Pesantren yang mengajarkan kemandirian dan telah memberinya banyak ilmu pengetahuan.
Di pesantren Darul Albab Yasmin adalah salah satu santriwati dengan segudang prestasi. Tidak hanya berprestasi di bidang akademik, Yasmin juga berprestasi di berbagai kegiatan ekstrakurikuler. Yasmin juga pernah mengharumkan nama pesantren di tingkat internasional dengan meraih juara satu pada lomba kaligrafi arab di Doha, Qatar, waktu dia duduk di kelas satu MA. Di kelas dua dia juga menjadi juara dua Musabaqah Hifdzil Quran di Mesir. Di kelas tiga Yasmin menjuarai lomba pidato bahasa Inggris tingkat nasional yang diadakan oleh DEPAG. Maka tidak heran jika setelah ujian nasional dia ditawari beasiswa oleh yayasan Pesantren Darul Albab untuk kuliah di salah satu perguruan tinggi terkenal di ibu kota, tapi Yasmin menolak dan memilih untuk kuliah di Pesantren saja. Dia memilih kuliah di Darul Albab, karena nuansa religiusnya sangat kental dan tidak bisa didapat di perguruan tinggi lainnya di luar pesantren yang pergaulannya bebas bahkan sangat bebas. Selain alasan itu, Yasmin juga ingin memantapkan hafalan Al Qur’annya.
Tradisi juara bagi Yasmin masih berlanjut sampai dia duduk di bangku kuliah. Pada saat Yasmin masih semester dua, dia menjadi juara satu lomba sastra Arab antar mahasiswa jurusan sastra Arab yang diadakan oleh Jeddah University Saudi Arabia. Meskipun prestasi yang diraih Yasmin tidak sedikit, akan tetapi semua prestasi itu seakan tidak berarti lagi baginya. Bahkan gairahpun tidak ada.
Kemarin Pak Burhan dan Ibu Khadijah, orang tua Yasmin, sowan ke Kiai Syafi’i, pengasuh pesantren Darul Albab, untuk menjemput Yasmin boyong dari pesantren. Yasmin dijemput oleh kedua orang tuanya untuk dinikahkan dengan laki-laki pilihan ayahnya setelah tiga tahun dijodohkan tanpa sepengetahuan Yasmin. Laki-laki itu adalah Brian. Brian adalah anak orang kaya raya bernama Pak Anton.
“Hayo... Melamun terus.” Nabila, teman akrab Yasmin, mencoba membubarkan kesedihan Yasmin yang sedang menggelayuti wajahnya yang biasa dihiasi senyum.
“Ah, kamu, Bil. Mengagetkan aku saja.” Timpal Yasmin.
“Ada apa sich, Yas, malam-malam kok melamun di taman sendirian? Malam jumat lagi.” “Kemarin ayam-ayam tetanggaku mati semua lho gara gara melamun.” Lanjut Nabila.
“Apa hubungannya melamun dengan ayam-ayam yang mati? Kamu ini ada-ada saja, Bil.”
“He. He. Memang tidak ada.” Jawab Nabila sambil tertawa kecil. “Habisnya kamu malam jumat bukannya berkumpul bersama teman-teman, malah melamun.” “Nama kamu Yasmin. Yasmin itu bahasa Arab yang berarti melati. Masak melati mukanya kusut seperti baju yang belum disetrika?”
“Aku sedang sedih, Bil.”
“Sedih kenapa?” Nabila penasaran.
“Kamu tahu kan kemarin orang tuaku sowan ke kiai?”
“Iya, tahu. Terus kenapa kamu harus bersedih?” Nabila semakin penasaran.
Sambil meneteskan air mata, Yasmin menjelaskan kesedihannya juga maksud tujuan orang tuanya sowan ke pengasuh pesantren, termasuk soal perjodohannya dengan Brian.
“Oh, jadi begitu.” Nabila mengangguk-anggukkan kepala. “Ya, sudah kamu jangan bersedih lagi!” Lanjut Nabila sambil memeluk Yasmin. “Kamu kan masih bisa tetap kuliah, jadi kamu masih bisa bertemu dengan aku dan teman-teman di sini.”
“Bukan itu saja, Bil, yang membuat aku sedih.”
“Terus apa dong?” Nabila melepaskan pelukannya.
“Brian itu hanya tamatan SD. Dia juga tidak pernah belajar agama, Bil. Bagaimana dia bisa menjadi imam dalam rumah tangga?”
“Sudah, jangan menangis lagi!” Nabila mengusap air mata Yasmin. “Kalau kamu memang tidak setuju dengan perjodohan yang dilakukan ayah kamu, kamu bisa jelaskan dengan baik-baik, tanpa mengurangi hormat kamu kepada ayah dan ibu kamu.”
“Bagaimana aku harus menjelaskan kepada orang tuaku, Bil?”
“Kamu kan santri. Sedikit-banyak kamu faham agama, jadi kamu jelaskan kalau perjodohan yang dilakukan ayah kamu itu kurang tepat dalam syari’at islam.” Jawab Nabila sambil memegangi kedua pundak Yasmin. “Kamu ingat, tidak? Dulu kita pernah berdiskusi dengan teman-teman tentang pemaksaan perjodohan yang dilakukan oleh orang tua kepada anaknya. Waktu itu kamu pernah mengutip hadits yang diriwayatkan oleh Nasa’i, Ibnu Majah, Daruquthni dan Abdurrazaq. Dalam mengutip hadits itu kamu bercerita tentang seorang gadis yang mengadu pada Ummul Mu’minin, ‘Aisyah, karena dipaksa oleh bapaknya untuk menikah dengan sepupunya sedangkan gadis itu tidak menyukainya...”
“Iya aku ingat sekarang.” Yasmin memotong penjelasan Nabila dengan wajah berbinar-binar. “’Aisyah kemudian mengadukan hal itu kepada Rasulullah dan kemudian Rasulullah memanggil ayah gadis itu dan Rasulullah menjelaskan kalau keputusan sepenuhnya ada di tangan anak gadisnya. Betul, ‘kan?” Yasmin menatap wajah Nabila dengan senyuman mengembang.
Nah, itu kamu ingat.” Jawab Nabila. “Kamu dulu juga mengutip pendapat Al-Habib Abdullah bin Husain bin Thohir bin Muhammad bin Hasyim, pengarang kitab Is’adur Rafiq, yang berpendapat kalau anak yang menolak perjodohan yang dilakukan orang tuanya tidak termasuk...”
’Uququl walidain, ‘kan?” Lagi-lagi Yasmin memotong penjelasan Nabila.
“Hem... Semangat sekali kamu?” Nabila menggoda Yasmin dengan mencolek dagu Yasmin.
“Terimakasih, ya, Bil. Kamu memang temanku yang bisa mengerti keadaanku.” Sambil memeluk Nabila, Yasmin melanjutkan: “kalau seperti itu penjelasannya, orang tuaku pasti bisa menerima pendapatku. Selain masuk akal, penjelasan itu bersumber dari hadits dan pendapat ulama.”
Nabila melepaskan pelukan Yasmin. “Ayo sekarang kita ke kamar. Tidur. Sudah jam sepuluh ‘ni. Nanti jam tiga kita harus bangun dan waktu itu kamu bisa manfaatkan untuk meminta petunjuk dan pertolongan Allah.”
“Ayo.” Timpal Yasmin singkat.
Mereka berdua kemudian beranjak dari taman pesantren menuju ke kamar masing-masing.
*****
Mobil Kijang Innova warna silver, penjemput Yasmin sudah siap di depan balai tamu. Yasmin keluar dari kamarnya menuju orang tuanya yang sudah menunggu di mobil. Yasmin mencium tangan kedua orang tuanya kemudian memasukkan tasnya ke bagasi.
Mobil yang dikemudiakan oleh Pak Mursyid, sopir pribadi Pak Burhan, berangkat bertolak dari pesantren menuju rumah Yasmin. Di tengah laju mobil, Yasmin membuka pembicaraan: “ayah. Ibu, nanti malam ayah dan ibu ada waktu, tidak?”
“Sepertinya tidak ada, ya, bu?” tanya Pak Burhan sambil melihat ke belakang ke arah Ibu Khadijah.
“Iya, tidak ada. Memangnya ada apa, Yas? Sepertinya ada sesuatu yang penting.” Ibu Khadijah melihat ke arah Yasmin.
“Ada yang mau Yasmin bicarakan kepada ayah dan ibu.”
“Soal apa?” Pak Burhan penasaran.
“Nanti saja, yah.”
“Ya, sudah.”
*****
Adzan ‘isya’ berkumandang. Yasmin bersama orang tuanya langsung shalat berjamaah. Setelah dzikir dan doa bersama, Yasmin bersalaman dan mencium tangan kedua orang tuanya kemudian melipat mukenah yang ia kenakan dan langsung naik ke lantai dua rumah menuju kamarnya. Di kamarnya Yasmin menyalakan komputer untuk menyapa teman-teman dunia mayanya melalaui jejaring sosial Twitter. Setelah bercengkrama dengan teman-teman Twitter-nya, Yasmin beralih ke Facebook. Yasmin asyik online ditemani alunan merdu lagu Rindu Muhammadku yang dilantunkan oleh Haddad Alwi, Anti, Vita dan Ebith, sambil membalas teman-teman dunia mayanya yang mengomentari status yang dia update. Saat asyik online, terdengar suara Ibu Khadijah memanggilnya: “Yasmin, turun! Makan malam sudah siap ‘ni.”
“Iya, bu.” Yasmin langsung turun menuju meja makan setelah komputernya di-shut down.
“Wah, ibu masih ingat makanan kesukaan Yasmin.” Yasmin senang melihat ayam rendang dan sayur asam kesukaannya.
“Iya dong. Tidak mungkin ibu lupa makanan kesukaan anak ibu sendiri?”
“Oh, iya. Tadi Yasmin bilang mau bicara sama ayah dan ibu?” Pak Burhan mengingatkan Yasmin.
“Nanti saja, yah, setelah makan.”
Setelah makan, Pak Burhan menuju ruang keluarga sedangkan Yasmin dan Ibu Khadijah membereskan piring-piring.
“Yasmin, kalau sudah beres-beres, ayah tunggu di sini, ya?”
“Iya, yah. Sudah selesai ‘ni.” Yasmin dan Ibu Khadijah menuju Pak Burhan yang sudah menunggu di ruang keluarga. Yasmin langsung duduk dekat Ibu Khadijah.
“Soal apa yang mau Yasmin bicarakan?” Pak Burhan membuka pembicaraan.
“Soal perjodohan Yasmin dengan Brian, yah.”
“Memang kenapa, anakku?” Tanya Ibu Khadijah sambil mengelus-elus kepala Yasmin.
Yasmin menjelaskan ketidak setujuannya dengan perjodohan yang dilakukan oleh orang tuanya dengan alasan yang sudah dia persiapkan dari pesantren dengan Nabila, teman akrabnya.
Setelah mendengar penjelasan Yasmin, sambil menghela nafas panjang Pak Burhan menanggapi: “itulah tujuan ayah dan ibu memondokkan Yasmin di pesantren: supaya Yasmin berpengetahuan luas. Ayah dan ibu ini kan awam dalam bidang agama, jadi ayah dan ibu tidak boleh membiarkan Yasmin seperti ayah ini. Dan kalau memang perjodohan ini kurang tepat dalam pandangan syari’at, ayah dan ibu akan membatalkan perjodohan ini. InsyaAllah, hari minggu ini ayah dan ibu akan ke rumah Pak Anton untuk membicarakan hal ini.”
“Yasmin minta maaf telah merepotkan ayah dan ibu.”
“Seharusnya kita yang minta maaf kepada Yasmin. Bukan Yasmin yang meminta maaf.” Jawab Ibu Khadijah sambil memeluk Yasmin yang duduk di sampingnya.
“Jadi besok Yasmin bisa balik lagi ke pesantren dan melanjutkan kembali kuliah Yasmin di Darul Albab.” Sambung Pak Burhan.
“Terimakasih, Yah, Bu. Ayah dan ibu sudah mengerti keinginan Yasmin.” Yasmin tidak dapat membendung air mata yang memaksa keluar dari bola matanya.
Keesokan harinya Pak Burhan sowan ke Kiai Syafi’i untuk mengembalikan kembali Yasmin ke pesantren dan Kiai Syafi’i dengan senang hati menerima kembail Yasmin untuk menimba ilmu di Darul Albab.
Yasmin merasa senang setelah Pak Burhan mengabarkan kalau Kiai Syafi’i mengijinkannya untuk menimba ilmu kembali di pesantren yang ia cintai. Yasmin juga merasa bangga dengan kedua orang tuanya yang mau mengerti akan keinginannya.

Sabtu, 30 Juli 2011

Nilai Dasar Pergerakan (NDP) PMII

Posted by Rastaman Aswajais Palengaan 04.51, under | 1 comment


A. Historisitas Nilai Dasar Pergerakan (NDP)
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sebagai organisasi kemahasiswaan berusaha menggali nilai- nilai moral yang lahir dari pengalaman dan keberpihakan insan warga pergerakan dalam bentuk rumusan-rumusan yang diberi nama Nilai Dasar Pergerakan (NDP).
Secara historis, NDP PMII mulai terbentuk pasca Independensi PMII ketika Mukernas III di Bandung (1-5 Mei 1976). Pada saat itu penyusunan NDP masih berupa kerangkanya saja, lalu diserahkan kepada tim PB PMII. Namun, hingga menjelang Kongres PMII VIII di Bandung, penyusunan tersebut belum dapat diwujudkan. Hingga akhirnya saat Kongres PMII VIII di Bandung (16-20 Mei 1985) menetapkan penyempurnaan rumusan NDP dengan Surya Dharma Ali sebagai ketua umumnya. Penyempurnaan ini berlangsung hingga 1988. Selanjutnya pada tanggal 14-19 September 1988 ketika Kongres IX PMII, NDP mulai disahkan di Surabaya.
NDP ini merupakan tali pengikat (kalimatun sawa’) yang mempertemukan semua warga pergerakan dalam ranah dan semangat perjuangan yang sama. Seluruh anggota dan kader PMII harus memahami dan menginternalisasikan nilai dasar PMII baik secara personal maupun kolektif dalam medan perjuangan sosial yang lebih luas, dengan melakukan keberpihakan yang nyata melawan ketidakadilan, kesewenangan, kekerasan, dan tindakan-tindakan negatif lainnya.

B. Arti NDP
NDP merupakan nilai-nilai secara mendasar, yang merupakan sublimasi nilai-nilai keIslaman dan keindonesiaan dengan kerangka pemahaman Ahlussunnah wal jama’ah yang menjiwai berbagai aturan, memberi arah, mendorong, serta penggerak kegiatan PMII. Yang dimaksud nilai-nilai keislaman disini adalah kemerdekaan/al-huriyah,persamaan/al-musawa, keadilan/‘adalah, toleran/tasamuh, damai/al-sulh, dll. Adapun nilai-nilai keindonesiaan adalah keberagaman suku, agama, budaya, ras, golongan, beribu pulau, dll.
Nilai-nilai Islam mendasari, memberi spirit dan élan vital pergerakan yang meliputi cakupan iman (aspek iman), Islam (aspek syari’ah), dan Ihsan (aspek etika dan akhlak). Sedangkan nilai-nilai keindonesiaan memberi area berpijak, bergerak dan memperkaya proses aktualisasi dan proses dinamika pergerakan.

C. Fungsi NDP
1. Sumber Motivasi (Kerangka Ideologis)
NDP menjadi pendorong insan pergerakan untuk berfikir, berbuat dan bergerak sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
2. Landasan berfikir (Kerangka Refleksi)
NDP menjadi landasan berpendapat terhadap persoalan yang dihadapi.
3. Landasan Berpijak (Kerangka Aksi)
NDP menjadi landasan setiap gerak langkah dan kebijakan yang harus dilakukan oleh insan pergerakan dalam membela kaum lemah.

D. Kedudukan NDP
1. NDP menjadi sumber kekuatan ideal-moral dari aktivitas pergerakan.
2. NDP menjadi pusat argumentasi dan pengikat kebenaran dari kebebasan berfikir, berucap, dan bertindak dalam aktivitas pergerakan.

E. Rumusan NDP
1. Tauhid
Meng-Esa-kan Allah merupakan nilai yang paling asasi dalam sejarah agama samawi. Di dalamnya telah terkandung sejak awal tentang keberadaan manusia, hal ini terkandung dalam surat Al-Ikhlas: 1-4, Al-Baqarah: 130-131.
Allah adalah Esa dalam segala totalitas, dzat, sifat, dan perbuatan Allah. Keyakinan seperti itu merupakan keyakinan terhadap sesuatu yang lebih tinggi dari alam semesta, serta merupakan manifestasi dari keyakinan terhadap yang ghaib. Oleh karena itu tauhid merupakan titik puncak yang melandasi, memandu, dan menjadi sasaran keimanan yang mencakup keyakinan dalam hati, penegasan lewat insan, dan perwujudan lewat perbuatan. PMII harus mampu melarutkan dan meneteskan nilai- nilai tauhid dalam berbagai kehidupan serta tersosialisasikan hingga merambah di sekelilingnya.

2. Hubungan manusia dengan Allah (Hablum min Allah)
Allah adalah pencipta alam semesta. Dia menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya kejadian dan menganugerahkan kedudukan yang terhormat kepada manusia dihadapan ciptaan-Nya sekaligus. Kedudukan itu ditandai dengan pemberian daya nalar berfikir, kemampuan berkreasi, dan kesadaran moral. Potensi itulah yang memungkinkan manusia memerankan fungsi sebagai Khalifah fi al Ard dan hamba Allah. Hal ini terkandung dalam surat Al-An’am:165. Sebagai hamba Allah, manusia harus melaksanakan ketentuanNya (Az-Dzariat:56). Untuk itu manusia dilengkapi dengan kesadaran moral yang harus selalu dirawat.
Dengan demikian, dalam kedudukan sebagai manusia ciptaan Allah, terdapat pola hubungan manusia dengan Allah, yaitu pola yang didasarkan pada kedudukan manusia sebagai khalifah dan sebagai hamba ciptaan Allah.
3. Hubungan manusia dengan manusia ( Hablum min an Naas)
Tidak ada sesuatu yang lebih antara satu dengan yang lainnya di hadapan Allah kecuali ketaqwaannya. Setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan. Karena kesadaran ini, manusia harus saling menolong, saling menghormati, bekerja sama, menasehati, dan saling mengajak kepada kebenaran demi kebaikan bersama. Hal ini terkandung dalam surat Al-Hujurat:13.
Nilai-nilai yang dikembangkan dalam hubungan antar manusia tercakup dalam persaudaraan antar umat manusia. Perilaku persaudaraan ini harus menempatkan insan pergerakan pada posisi yang dapat memberi manfaat maksimal untuk diri dan lingkungannya.
4. Hubungan manusia dengan alam ( Hablum mi’a al ‘Alam)
Alam semesta adalah ciptaan Allah. Dia menentukan kadar dan hukum- hukumnya. Alam juga menunjukkan tanda-tanda keberadaan, sifat dan perbuatan Allah. Allah menundukkan alam untuk manusia dan bukan sebaliknya. Jika hal ini terjadi dengan sebaliknya, maka manusia akan terjebak dalam penghambaan kepada alam, bukan kepada Allah. Allah menciptakan manusia sebagai khalifah, sudah sepantasnya manusia menjadikan bumi maupun alam sebagai wahana dalam bertauhid dan bukan menjadikan sebagai obyek eksploitasi, hal ini terkandung dalam surat Al-Qashas : 77.